Korban Kapitalis

Juni 26, 2007

Lagi….lagi….dan lagi…. aku, seorang buruh tanpa kontribusi finansial apapun di tempat kerjaku, merasa ditipu dan tidak puas atas ketidaktransparanan Pak Managing Director. Pak Managing Director, seorang kapitalis, yang juga pemilik **% kontribusi finansial di tempat kerjaku selalu tidak transparan dalam pembagian fee, job discription, maupun org2 yang diajaknya dalam setiap proyek penelitian yang di dapat oleh tempat kerjaku. Hmm……….sampe jungkir balik 1/2 mati aku maksimalkan kontribusi pemikiran dan tenagaku, g pernah ada perhargaan dan reward yang sepadan dan transparan untuk seorang buruh, sepertiku.

Iklan

kicau kehilangan….

Juni 12, 2007

dini hari tadi (00:44) aku diserang ketakutan yang begitu hebatnya. ketakutan akan kehilangan orang2 terdekatku, betapa tidak….sepanjang malam tiga kali burung2 pembawa pesan pentanda buruk itu berkicau di luar kamarku. ada apa ini????? aku yakin masalah hidup dan mati adalah rahasia dan hak preogatif Allah semata, semoga kepercayaan soal kicau burung2 itu menjadi isapan jempol belaka, semoga esok….dikemudian harinya Allah  memberikanku kekuatan untuk menghadapi cobaanNya seberat apapun.


Malangnya “Angkoters” (I)

Mei 16, 2007

Seperti yang ditulis blogger ini, betapa bikin stressnya berkendara di jalanan kota besar, Hukum rimba pun masih kental berlaku di jalanan tengah kota, kendaraan kecil dan tidak bermesin harus lebih sopan jika berebut jalan dengan kendaraan berbodi besar dan bermesin. Gak cukup hukumnya, bahasa rimba pun sering dijadikan bahasa komunikasi para pengendara stress di jalanan tengah kota (penghuni2 rimba monyet, anjing hutan beserta tai kotorannya).

Soal hukum rimba, inilah yang kurasa sebagai konsumen tidak berdaya “angkoter” yang selalu jadi kalah-kalahan oleh produsen pemilik kuasa para sopir, para tuan pemilik ijin trayek dan armada angkot, hingga oleh organisasi jurusan angkot.
Dari puluhan ribu kilometer jalanan yang selalu kulalui dari dalam angkot, mungkin hanya puluhan kali aku melintasinya dengan rasa yang suka cita, senang, nyaman, tanpa umpatan dalam hati, bahkan kagum dan memuji sopir pengemudi angkot.
Setiap hari dalam lebih dari dua tahun terakhir ini, aku dipaksa untuk selalu bersabar, ketika sopir2 lyn G dan P selalu menarik tarif Rp 200,- di atas tarif resmi yang sudah ditetapkan oleh Dishub Kota Surabaya. Memang cuma Rp 200,- sih, toh angkoters yang lain juga nggak pernah protes, meski ga sedikit angkoters yang taat pada aturan tarif itu dengan membayar memakai uang pas. Apa angkoters yang g pernah protes itu, termasuk aku aku, memang mengiklhaskan Rp 200,- itu setiap harinya atau sama mengutuknya dalam hati sopir2 curang yang berpura-pura tidak terjadi apa-apa itu????? Nilainya memang g seberapa, bagi angkoters yang punya banyak duit atau pun jika dibanding dengan biaya BBM (yang sudah berkali-kali melunjak) yang harus dikeluarkan oleh sopir angkot. Tapi, ini masalah kejujuran, masalah berdisiplin terhadap aturan yang telah dibuat, masalah pemenuhan hak-hak orang lain konsumen, masalah dosa dan pahala. Ngga’ tau sudah berapa banyak dosa yang tercipta akibat Rp 200,- ini??? Dari umpatan-umpatan ringan angkoters yang tidak legowo, hingga perbuatan menilep hak orang lain yang terorganisir. Terorganisir???? Yup, karena ga’ cuma sopirnya saja yg berdosa karena penilepan Rp 200,- itu, pemilik ijin trayek dan armada angkot juga turut berkontribusi dalam dosa penilepan ini karena merekalah yang selalu menekan sopir2nya untuk memberikan setoran setinggi2nya di tengah sepinya pengguna angkot dan lunjakan harga BBM, dishub Surabaya pun berdosa, karena tidak pernah melakukan fungsi pemantauannya tas regulasi yang ia buat sendiri, setelah semua ini apa yang menaikkan harga BBM apa juga turut berdosa 😕 ???

Huh, toh di samping semua itu, aku juga pernah merasakan suka cita dan berdecak kagum ketika harus turun dari angkot. Ketika sempat beberapa kali dulu bapak-bapak sopir lyn G masih mau memberikan kembalian Rp 200,- , dan ketika pernah dua kali dulu bapak sopir lyn P masih mengenakan tarif Rp 2.300,- sesuai ketentuan Dishub Surabaya.


Prestasi Mendunia Indonesia

April 27, 2007

Setelah Susi Susanti dan korupsi, ini adalah prestasi Indonesia yang layak dicatat di Guiness Book of Record.


Copet oh Copet

April 13, 2007

Suatu pagi di awal Februari , untuk pertama kalinya dalam 23 tahun terakhir, penulis menjadi korban kawanan pencopet penumpang angkot (kebetulan semenjak kelas 1 SD penulis telah mencatatkan diri sebagai “angkoter” –grammar in English- sejati). Cuma sebuah telepon genggam hasil keringat sendiri yang sama sekali nggak canggih, sih…….. Tapi…….marah, menyesal, kecewa atas kebodohan diri sendiri? Sudah pasti! Muak, jijik, dendam pada pelaku? Tentu saja!

Duit seharga telepon genggam itu, pasti akan lebih berguna jika disumbangkan untuk para tukang becak, gelandangan, yatim-piatu, pengecer koran daripada di berikan cuma-cuma untuk para pencopet pemalas itu. Bayangkan saja berapa banyak pahalanya, jika tiap rupiah akan dikalikan tujuh lalu dikalikan sepuluh! Ckckckck, lumayan…… bisa buat tabungan pahala selama  sebulan. Hahaha, dasar manusia!!!…….memang penulis pernah terfikir atau berniat beramal sebanyak itu sebelum kecopetan???? Fiuh…..sudah jadi watak bawaan penulis dari dulu, semua niat baik muncul setelah kepepet. Eit, niat baik yang mana? Apa masih jadi niat baik yang tulus ketika ada muatan “daripada dicopet, lebih baik dibuat amal”, “kalu saja tidak dicopet, mungkin bisa buat beramal”???

Memang benar, Allah selalu punya rencana untuk setiap kejadian, toh di kemudian hari ada seorang teman yang -ultra mulia- mampir menawari pinjaman telepon genggam nganggur-nya yang entah ada berapa biji di rumahnya. Dan pada akhirnya, dengan pinjaman “ekstra-lunak” dari salah seorang kakak penulis, penulis bisa kembali membeli telepon genggam baru yang tidak begitu canggih, thanks ya mbak!


Neri Belajar “Nulis” (tes…tes….)

April 12, 2007

Berminggu-minggu ngutak-ngatik blog-ku ini……………hasilnya????? Ya cuma ini…………

Somebody help me!!!!!!