Shinta, ABG Penggemarku

Juli 20, 2007

Pagi ini, aku merasa keren. Gimana tidak? Waktu di angkot, seorang anak perempuan belasan tahun  getol sekali colak-colek daguku (kupikir sebagai ungkapan kekagumannya akan kecantikanku). ABG yang ternyata bernama Shinta ini juga berkali-kali menciumi tanganku (entah karena harumnya lotion yg kupakai atau memang begitu cantiknya aku dlm pengelihatannya). Sudah begitu, dia juga mendaulatku untuk  ber”dada-dada” ria menyapa cowok2 pengendara motor di belakang angkot. Sambil menyapa cowok2 itu, dengan sedikit berbisik dia mengatakan “ada cowok, hihihi”, khas seorang ABG perempuan.

Shinta, pelajar kelas 6 di salah satu SLB di Surabaya ini begitu ceria, ramah dan bersemangat. Aku bahkan sangat salut dengan rasa percaya dirinya yang tinggi. Tidak seperti kebanyakan  penderita down sindrome yang kutemui, Shinta tergolong “ngerti” (nyambung di ajak ngomong), ramah dan menyenangkan. Shinta juga terlihat patuh (bukan takut) terhadap mamanya. Berkali-kali dia memperkenalkan mamanya dan menceritakan keluarganya kepadaku dengan sangat bangganya.  Shinta hanya dua bersaudara, kakak semata wayangnya laki-laki, dan dia ingin sekali memiliki kakak perempuan. Ini menjawab semua pertanyaanku sebelumnya, kenapa dia sebegitu ngefans dan mengagumiku.

Hmm…..Shinta, pasti mamamu juga bangga akan dirimu. Kakak laki-lakimu pun pasti sangat menyayangimu. Selain dengan Shinta, aku juga salut dengan mama dari Shinta. Beliau begitu telaten, sabar dan bangga dalam mendidik dan membesarkan Shinta. Si ibu ini, tidak segan2 menceritakan kondisi, kemajuan dan apapun tentang Shinta kepada ibu-ibu lain di angkot.

Satu hal yg membuatku agak kecewa terhadap mama Shinta. Ketika Shinta gencar menunjukkan rekasi kekagumannya kepadaku, mamanya berkali-kali melarang Shinta sambil mengatakan “jangan Shinta, tidak boleh, mbaknya mau kerja, nanti kotor”. Heh..?!!? Kotor?!?! apanya yang kotor?!?! Padahal berkali-kali pula aku memberikan isyarat kepada mama Shinta jika aku nggak nganggap Shinta kotor dan tidak merasa terganggu. Memang, Shinta tidak kotor kok! Dan aku memang enjoy menikmati kekaguman Shinta terhadapku, hihihi. Kacian Shinta…………….kenapa dia hrs diajarkan untuk menganggap dirinya sendiri kotor dan tidak diterima?? Padahal dia begitu supel, ramah dan menyenangkan.

Iklan

Malangnya “Angkoters” (I)

Mei 16, 2007

Seperti yang ditulis blogger ini, betapa bikin stressnya berkendara di jalanan kota besar, Hukum rimba pun masih kental berlaku di jalanan tengah kota, kendaraan kecil dan tidak bermesin harus lebih sopan jika berebut jalan dengan kendaraan berbodi besar dan bermesin. Gak cukup hukumnya, bahasa rimba pun sering dijadikan bahasa komunikasi para pengendara stress di jalanan tengah kota (penghuni2 rimba monyet, anjing hutan beserta tai kotorannya).

Soal hukum rimba, inilah yang kurasa sebagai konsumen tidak berdaya “angkoter” yang selalu jadi kalah-kalahan oleh produsen pemilik kuasa para sopir, para tuan pemilik ijin trayek dan armada angkot, hingga oleh organisasi jurusan angkot.
Dari puluhan ribu kilometer jalanan yang selalu kulalui dari dalam angkot, mungkin hanya puluhan kali aku melintasinya dengan rasa yang suka cita, senang, nyaman, tanpa umpatan dalam hati, bahkan kagum dan memuji sopir pengemudi angkot.
Setiap hari dalam lebih dari dua tahun terakhir ini, aku dipaksa untuk selalu bersabar, ketika sopir2 lyn G dan P selalu menarik tarif Rp 200,- di atas tarif resmi yang sudah ditetapkan oleh Dishub Kota Surabaya. Memang cuma Rp 200,- sih, toh angkoters yang lain juga nggak pernah protes, meski ga sedikit angkoters yang taat pada aturan tarif itu dengan membayar memakai uang pas. Apa angkoters yang g pernah protes itu, termasuk aku aku, memang mengiklhaskan Rp 200,- itu setiap harinya atau sama mengutuknya dalam hati sopir2 curang yang berpura-pura tidak terjadi apa-apa itu????? Nilainya memang g seberapa, bagi angkoters yang punya banyak duit atau pun jika dibanding dengan biaya BBM (yang sudah berkali-kali melunjak) yang harus dikeluarkan oleh sopir angkot. Tapi, ini masalah kejujuran, masalah berdisiplin terhadap aturan yang telah dibuat, masalah pemenuhan hak-hak orang lain konsumen, masalah dosa dan pahala. Ngga’ tau sudah berapa banyak dosa yang tercipta akibat Rp 200,- ini??? Dari umpatan-umpatan ringan angkoters yang tidak legowo, hingga perbuatan menilep hak orang lain yang terorganisir. Terorganisir???? Yup, karena ga’ cuma sopirnya saja yg berdosa karena penilepan Rp 200,- itu, pemilik ijin trayek dan armada angkot juga turut berkontribusi dalam dosa penilepan ini karena merekalah yang selalu menekan sopir2nya untuk memberikan setoran setinggi2nya di tengah sepinya pengguna angkot dan lunjakan harga BBM, dishub Surabaya pun berdosa, karena tidak pernah melakukan fungsi pemantauannya tas regulasi yang ia buat sendiri, setelah semua ini apa yang menaikkan harga BBM apa juga turut berdosa 😕 ???

Huh, toh di samping semua itu, aku juga pernah merasakan suka cita dan berdecak kagum ketika harus turun dari angkot. Ketika sempat beberapa kali dulu bapak-bapak sopir lyn G masih mau memberikan kembalian Rp 200,- , dan ketika pernah dua kali dulu bapak sopir lyn P masih mengenakan tarif Rp 2.300,- sesuai ketentuan Dishub Surabaya.