S E L I N G K U H

September 26, 2009


Malam ini……………….


Aku ingin tertidur sambil memeluk bayangmu


Aku ingin bermimpi tentangmu


Aku ingin terbang….


Bersama lamunan memori akanmu


Aku pun ingin terbangun bersama harapan-harapan mu


Aku ingin sejenak menjadi dulu…

Iklan

Pertaruhkan Nyawa Kita

November 20, 2007

Menjalani hidup di (Indonesia) sini serasa sedang menjalani ajang pertaruhan nyawa. Saat ini, sektor manakah yang digarap serius dan memperhitungkan standar keselamatan “nyawa” manusia? Transportasi, makanan, peralatan rumah tangga, infrastruktur, pendidikan??

Kalau dulu kereta selalu dianggap menjadi moda transpotasi paling aman, luntur sudah anggapan itu bersamaan dengan 60% infrasruktur rel kereta api di Jawa yg butuh diperbaiki dan diganti. Musibah transportasi pun seakan silih berganti dari satu moda ke moda yang lain.

Pengalaman saya dengan moda transportasi angkot  pun membuat saya setiap hari merasa sedang bergumul mempertaruhkan nyawa. Saya harus berdag-dig-dug ria ketika setiap hari harus mengikuti balapan antar sopir lyn HG (jurusan sepanjang-krian) yang ugal-ugalan. Saya dan sesama penumpang lain hanya bisa mengelus dada dan berharap tidak terjadi apa-apa terhadap badan ini tanpa tau harus mengadu kemana. Dishub dan kepolisian di daerah saya seakan tutup mata. Selain berharap-harap cemas dengan balapan ugal-ugalan itu, pengguna jalan juga harus tahan nafas dengan truk-truk yang berlebih muatan dan tidak jarang memaksa kebut2an meski jalan sangat sempit. Dulu, sempat suatu sore sebuah truk tronton bermuatan biji plastik jatuh terguling tepat di depan rumah saya dan menimpa pagar di halaman, sore hari…. ketika ibu saya biasanya sibuk menyapu halaman rumah, sore hari…. ketika karyawan pabrik di dekat rumah saya sedang berlalu lalang di jalanan. Di sekitar rumahku tragedi2 kecelakaan darat seperti itu seakan menjadi santapan biasa, orang duduk2 sore di beranda rumah saja pernah menjadi korban meninggal karena pengemudi yang ugal-ugalan dan nyasar menabrak beranda rumah orang.

Program berita investigasi di TV mana yang tidak pernah membahas pertaruhan nyawa orang banyak akibat kelalaian produsen makanan, obat2an, sampai peralatan rumah tangga,?? Formalin, boraks, pewarna pakaian, pemanis buatan tak layak konsumsi, sampai bahan2 kimia berbahaya campuran jamu,  seakan sudah menjadi bagian hidup mayoritas warga Indonesia, yang berdaya beli rendah dengan pendapatan yang pas-pasan.

Soal makanan, saya punya pengalaman pribadi harus mengalami radang tenggorokan berhari-hari akibat mengkonsumsi buah2an sejenis melon, semangka dan blewah. Waktu itu, saya hanya terheran2 mengapa mengkonsumsi buah-buahan itu harus membuat saya sakit?? ternyata, kabar terakhir, di sebuah liputan investigasi salah satu TV swasta, tidak jarang pedagang2 buah2an tersebut menyuntikkan pemanis buatan agar dagangannya laris manis.

Regulasi di negara kita seakan telat merespon masalah-masalah tersebut, baru dibuat regulasi jika sudah terkuak ke permukaan, padahal borok itu sudah lama beredar dan menjadi perbincangan antar warga. Complain lembaga setaraf YLKI sampai hasil penelitian2 seporadis seakan terabaikan oleh pemerintah jika belum ada kasus yang menghebohkan dan “mencolok” mata publik.

Seorang hakim yang sedang berdiri menegakkan keadilan harus meregang nyawa diujung senjata milik suruhan sang terdakwa berduit Tommy Suharto . Siswa-siswa SD di dalam 535.825 ruang kelas harus merasa terancam nyawanya ketika sedang menuntut ilmu meski negeri ini sudah berkomitmen 20% APBN untuk pendidikan. Hmm………….. semua penuh dengan pertaruhan nyawa. Mungkin saya hanya bisa menggantungkan harapan agar hak berpendapat di negeri ini tidak kembali menjadi ajang pertaruhan nyawa seperti di rezim-rezim terdahulu. (Temasuk berpendapat di blog 🙂 )


Shinta, ABG Penggemarku

Juli 20, 2007

Pagi ini, aku merasa keren. Gimana tidak? Waktu di angkot, seorang anak perempuan belasan tahun  getol sekali colak-colek daguku (kupikir sebagai ungkapan kekagumannya akan kecantikanku). ABG yang ternyata bernama Shinta ini juga berkali-kali menciumi tanganku (entah karena harumnya lotion yg kupakai atau memang begitu cantiknya aku dlm pengelihatannya). Sudah begitu, dia juga mendaulatku untuk  ber”dada-dada” ria menyapa cowok2 pengendara motor di belakang angkot. Sambil menyapa cowok2 itu, dengan sedikit berbisik dia mengatakan “ada cowok, hihihi”, khas seorang ABG perempuan.

Shinta, pelajar kelas 6 di salah satu SLB di Surabaya ini begitu ceria, ramah dan bersemangat. Aku bahkan sangat salut dengan rasa percaya dirinya yang tinggi. Tidak seperti kebanyakan  penderita down sindrome yang kutemui, Shinta tergolong “ngerti” (nyambung di ajak ngomong), ramah dan menyenangkan. Shinta juga terlihat patuh (bukan takut) terhadap mamanya. Berkali-kali dia memperkenalkan mamanya dan menceritakan keluarganya kepadaku dengan sangat bangganya.  Shinta hanya dua bersaudara, kakak semata wayangnya laki-laki, dan dia ingin sekali memiliki kakak perempuan. Ini menjawab semua pertanyaanku sebelumnya, kenapa dia sebegitu ngefans dan mengagumiku.

Hmm…..Shinta, pasti mamamu juga bangga akan dirimu. Kakak laki-lakimu pun pasti sangat menyayangimu. Selain dengan Shinta, aku juga salut dengan mama dari Shinta. Beliau begitu telaten, sabar dan bangga dalam mendidik dan membesarkan Shinta. Si ibu ini, tidak segan2 menceritakan kondisi, kemajuan dan apapun tentang Shinta kepada ibu-ibu lain di angkot.

Satu hal yg membuatku agak kecewa terhadap mama Shinta. Ketika Shinta gencar menunjukkan rekasi kekagumannya kepadaku, mamanya berkali-kali melarang Shinta sambil mengatakan “jangan Shinta, tidak boleh, mbaknya mau kerja, nanti kotor”. Heh..?!!? Kotor?!?! apanya yang kotor?!?! Padahal berkali-kali pula aku memberikan isyarat kepada mama Shinta jika aku nggak nganggap Shinta kotor dan tidak merasa terganggu. Memang, Shinta tidak kotor kok! Dan aku memang enjoy menikmati kekaguman Shinta terhadapku, hihihi. Kacian Shinta…………….kenapa dia hrs diajarkan untuk menganggap dirinya sendiri kotor dan tidak diterima?? Padahal dia begitu supel, ramah dan menyenangkan.


Korban Kapitalis

Juni 26, 2007

Lagi….lagi….dan lagi…. aku, seorang buruh tanpa kontribusi finansial apapun di tempat kerjaku, merasa ditipu dan tidak puas atas ketidaktransparanan Pak Managing Director. Pak Managing Director, seorang kapitalis, yang juga pemilik **% kontribusi finansial di tempat kerjaku selalu tidak transparan dalam pembagian fee, job discription, maupun org2 yang diajaknya dalam setiap proyek penelitian yang di dapat oleh tempat kerjaku. Hmm……….sampe jungkir balik 1/2 mati aku maksimalkan kontribusi pemikiran dan tenagaku, g pernah ada perhargaan dan reward yang sepadan dan transparan untuk seorang buruh, sepertiku.