Bikin Keributan Tanpa Keributan

September 17, 2007

Malam minggu terakhir di bulan Agustus kemarin, dengan sedikit nekad untuk pertama kalinya aku mencoba ikut larut merasakan hingar-bingar mini live concert di lapangan terbuka. Kenekadan ini berawal dari beberapa alasan external : paksaan teman2 di kampung, tiket masuk yang gratisan akibat praktek nepotisme oleh seorang teman pegiat Karang Taruna di kampung dan lokasi yang dekat dengan rumah. Sebenarnya dorongan internal lebih menggebu, rasa penasaranku atas pria-pria muda personil band utama yang baru-baru ini sukses sampai-sampai singlenya dijiplak habis2an oleh Uut Permatasari juga niat iseng untuk mencari bahan postingan.

Apalagi sebagai pemudi di kampungku, seperti muda-mudi lainnya, aku tidak kuasa memebendung euforia kebanggaan, jika baru kedua kalinya semasa kami dibesarkan, lapangan kampung kami dipilih sebagai tempat proyek promosi dan ekspansi pasar secara besar-besaran oleh sebuah produsen rokok ringan. Tidak tanggung-tanggung muda-mudi kampungku yang biasanya dihibur band-band OM (orkes Melayu) yang gemar membuat lagu2 dangdut menjadi koplo, atau guyonan ludruk ala Cak Supali (artis dunia perludrukan yang cukup beken di Jatim saat ini), kini malah disuguhi hiburan bandband ibukota yang akhir2 ini rajin muncul di tv, baik video klipnya atau hanya sekedar menyemarakkan gosip di acara2 infotainment.

Huh, euforia dan rasa banggaku buru-buru tergilas dengan rasa miris, sesak, dan prihatin ketika menemui kenyataan lain sebagai dampak akan hingar bingar konser ini. Pemuda-pemuda ABG di kampungku mendadak terkena sindrom gaul wannabe, hingga panik, frustrasi dan kemudian menjadi marah karena hanya dihibur di luar arena pertunjukan. Mungkin juga kantong mereka yang nggak setebal ABG2 perkotaan untuk mebayar tiket masuk Rp 10.000. Saya jadi buru2 menjadi tebal muka terhadap mereka karena selain saya berhasil masuk secara gratis dengan Karang Taruna ID juga karena ternyata arena pertunjukan juga masih cukup luas untuk menampung mereka. Sindrom gaul wannabe ini ternyata juga sedang dirasakan gerembolan anak-anak usia SD yang saya lihat sedang ribut-ribut soal itungan duit yang tidak mencukupi agar semua gerombolan mereka bisa mendapat tiket masuk. Tidak cuma ingin gaul, tapi sindrom romantisme juga mendadak dialami pasangan-pasangan muda-mudi yang sibuk mojok di kegelapan di pinggiran lapangan petunjukan akibat (mungkin) tidak mampu membayar sewa hotel resmi atau merasa riskan jika berpacaran ala mereka di rumah masing-masing. Bahkan saya sempat menemui sepasang kekasih mesra bergandeng tangan dan saling merangkul, dan saya yakini jika umur mereka tidak lebih dari 13 tahun. Untuk bagian ini, ada sedikit rasa nelangsa di hati saya, perempuan muda, datang tanpa pasangan tapi justru datang bersama teman, yang tidak lain sepasang suami istri yang baru seminggu menikah, hiks…………………………..

Tidak hanya itu, karena si empu acaranya adalah merk rokok, di sini juga bebas bagi siapa saja untuk merokok, termasuk beberapa anak yang usianya tidak lebih dari 10 tahun yang saya jumpai.

Rok mini, t-shirt ketat, asap rokok, perempuan2 muda yang menempel-nempel di punggung pria2 muda, pria2 muda yang bergelanyut di pundak perempuan2 muda, alkohol, jingkrak-jingkrak kaki mengikuti alunan musik, band penyanyi, lighting, merk rokok………………….saya jadi membayangkan seperti suasana diskotik/club2 malam seperti yang digambarkan di sinetron2 kita, di acara2 TV tengah malam atau bahkan di berita razia tempat hiuburan malam.

Hmmmmm, generasi muda kampungku sedang dididik menjadi “Gaul”, “Ngota”, “Bebas Berekspresi”, dan “Kreatif” oleh merk rokok ringan.

Kapan proyek promosi merk rokok ini bisa mendidik generasi penerus di kampungku dengan taman bacaan anak, perpustakaan umum, sanggar seni, peyuluhan merokok tanpa mengganggu tanpa merampas hak yang bukan perokok, dll…..dll…..dll…..

Btw, ada sedikit kejanggalan di telinga saya atas kalimat MC laki2 di acara itu : membuat keributan (merujuk slogan acara A-mild Noize) tanpa keributan (mungkin maksudnya tanpa tawuran). Detail kalimatnya seperti ini : “Mari kita bikin keributan tanpa keributan”.


5,80 (yang penting lulus)……..

Juni 28, 2007

Ini adalah dialog yang awalnya secara tidak sengaja dan kemudian berlanjut menjadi sengaja untuk ku curi dengar dengarkan.
(setting: pagi hari, di dalam angkot jurusan Sepanjang-Joyoboyo ; pemeran: tiga orang anak salah satu SMP Negeri di Surabaya (dua siswi yang baru lulus UNAS dan seorang siswa adik kelas)

(Siswa): “Aku wingi ngintip hasil UNAS arek kelas telu, Bahasa Indonesia’ne 5,80. (Aku kemarin mengintip hasil UNAS anak kelas tiga, nilai Bahasa Indonesianya 5,80).

(Siswi 1):”Iyo terus kenek opo?” (Emangnya kenapa???)

(Siswa):”Bahasa Indonesia, 5????” (Bahasa Indonesia, 5,8?????)
*dengan sedikit menekankan kalimatnya*

(Siswi 2):”Tapi de’e kan lulus??? Sing penting kan lulus!!!!!!!” (Tapi dia kan lulus, yang penting lulus!!!!!)

(Siswa):”Pancen lulus, tapi NEM’e pas2an? Engko kan gak iso daftar SMA negeri.” (Emang lulus, tapi dengan NEM pas2an?) Nanti tdk bisa daftar di SMA negeri.)

(Siswi 2+1):”Halah, saiki sing penting lulus, masalah NEM ambe’ sekolah, saiki kan akeh SMA swasta sing gelem nerimo NEM pas2an. (Halah, sekarang itu yang penting lulus, masalah NEM dan sekolah, sekarang kan banyak SMA swasta yang mau menerima NEM pas2an.)

PARAH-PARAH-PARAH. Sebegitu parahkah pelajar Indonesia???? Sebegitu carut-marut kah sistem pendidikan di sini (baca:Indonesia). Bertahun-tahun siswa sekolah hanya akan bermuara pada harapan lulus UNAS, lulus meski dengan nilai minim!!!!

Standar kelulusan atas dasar hasil UNAS telah membuat setiap komponen di dunia pendidikan dasar dan menegah (guru, pelajar ataupun lembaga bimbel yang tumbuh subur bak jamur di kulit kaki yang kotor) gelap mata agar siswa dapat LOLOS lulus UNAS. Lihat saja, para guru bahkan kepala sekolah akan dengan sungguh2 mengolah kecerdasannya agar siswa disekolahnya dapat dengan sukses menjawab soal2 ketika UNAS berlangsung. Sedang pelajar-pelajar kita???? dengan bangga mereka akan mempersembahkan kelulusannya seperti dalog di atas. Nonton sinetron remaja gak mutu tiap harinya, gak diterima di sekolah negeri, mengganggu kenyamanan pengguna jalan saat konvoi kelulusan….semuanya bukan masalah besar, yang penting mereka LOLOS lulus UNAS!!!!!!!! Tak kalah hebohnya, lembaga bimbingan belajar yang seharusnya ikut membantu memantapkan pemahaman kognitif para peserta didiknya, alih-alih mereka berusaha menjaring banyak-banyak siswa dengan iming-iming rumus/cara singkat, cepat, jitunya untuk mengerjakan soal-soal UNAS.

Semoga saja, UNAS sebagai standar kelulusan saat ini, dapat mencetak pemimpin2 masa depan yang lebih bermoral, bisa menjadi pembuka jalan lahirnya penerima nobel dari Indonesia yang low profile, tidak kalah pentingnya bisa mencerdaskan kehidupan bangsa seperti amanah dalam prembule UUD 1945, dan kebisaan-kebisaan hebat lainnya………..entah kapan?????


Korban Kapitalis

Juni 26, 2007

Lagi….lagi….dan lagi…. aku, seorang buruh tanpa kontribusi finansial apapun di tempat kerjaku, merasa ditipu dan tidak puas atas ketidaktransparanan Pak Managing Director. Pak Managing Director, seorang kapitalis, yang juga pemilik **% kontribusi finansial di tempat kerjaku selalu tidak transparan dalam pembagian fee, job discription, maupun org2 yang diajaknya dalam setiap proyek penelitian yang di dapat oleh tempat kerjaku. Hmm……….sampe jungkir balik 1/2 mati aku maksimalkan kontribusi pemikiran dan tenagaku, g pernah ada perhargaan dan reward yang sepadan dan transparan untuk seorang buruh, sepertiku.


kicau kehilangan….

Juni 12, 2007

dini hari tadi (00:44) aku diserang ketakutan yang begitu hebatnya. ketakutan akan kehilangan orang2 terdekatku, betapa tidak….sepanjang malam tiga kali burung2 pembawa pesan pentanda buruk itu berkicau di luar kamarku. ada apa ini????? aku yakin masalah hidup dan mati adalah rahasia dan hak preogatif Allah semata, semoga kepercayaan soal kicau burung2 itu menjadi isapan jempol belaka, semoga esok….dikemudian harinya Allah  memberikanku kekuatan untuk menghadapi cobaanNya seberat apapun.


Malangnya “Angkoters” (I)

Mei 16, 2007

Seperti yang ditulis blogger ini, betapa bikin stressnya berkendara di jalanan kota besar, Hukum rimba pun masih kental berlaku di jalanan tengah kota, kendaraan kecil dan tidak bermesin harus lebih sopan jika berebut jalan dengan kendaraan berbodi besar dan bermesin. Gak cukup hukumnya, bahasa rimba pun sering dijadikan bahasa komunikasi para pengendara stress di jalanan tengah kota (penghuni2 rimba monyet, anjing hutan beserta tai kotorannya).

Soal hukum rimba, inilah yang kurasa sebagai konsumen tidak berdaya “angkoter” yang selalu jadi kalah-kalahan oleh produsen pemilik kuasa para sopir, para tuan pemilik ijin trayek dan armada angkot, hingga oleh organisasi jurusan angkot.
Dari puluhan ribu kilometer jalanan yang selalu kulalui dari dalam angkot, mungkin hanya puluhan kali aku melintasinya dengan rasa yang suka cita, senang, nyaman, tanpa umpatan dalam hati, bahkan kagum dan memuji sopir pengemudi angkot.
Setiap hari dalam lebih dari dua tahun terakhir ini, aku dipaksa untuk selalu bersabar, ketika sopir2 lyn G dan P selalu menarik tarif Rp 200,- di atas tarif resmi yang sudah ditetapkan oleh Dishub Kota Surabaya. Memang cuma Rp 200,- sih, toh angkoters yang lain juga nggak pernah protes, meski ga sedikit angkoters yang taat pada aturan tarif itu dengan membayar memakai uang pas. Apa angkoters yang g pernah protes itu, termasuk aku aku, memang mengiklhaskan Rp 200,- itu setiap harinya atau sama mengutuknya dalam hati sopir2 curang yang berpura-pura tidak terjadi apa-apa itu????? Nilainya memang g seberapa, bagi angkoters yang punya banyak duit atau pun jika dibanding dengan biaya BBM (yang sudah berkali-kali melunjak) yang harus dikeluarkan oleh sopir angkot. Tapi, ini masalah kejujuran, masalah berdisiplin terhadap aturan yang telah dibuat, masalah pemenuhan hak-hak orang lain konsumen, masalah dosa dan pahala. Ngga’ tau sudah berapa banyak dosa yang tercipta akibat Rp 200,- ini??? Dari umpatan-umpatan ringan angkoters yang tidak legowo, hingga perbuatan menilep hak orang lain yang terorganisir. Terorganisir???? Yup, karena ga’ cuma sopirnya saja yg berdosa karena penilepan Rp 200,- itu, pemilik ijin trayek dan armada angkot juga turut berkontribusi dalam dosa penilepan ini karena merekalah yang selalu menekan sopir2nya untuk memberikan setoran setinggi2nya di tengah sepinya pengguna angkot dan lunjakan harga BBM, dishub Surabaya pun berdosa, karena tidak pernah melakukan fungsi pemantauannya tas regulasi yang ia buat sendiri, setelah semua ini apa yang menaikkan harga BBM apa juga turut berdosa 😕 ???

Huh, toh di samping semua itu, aku juga pernah merasakan suka cita dan berdecak kagum ketika harus turun dari angkot. Ketika sempat beberapa kali dulu bapak-bapak sopir lyn G masih mau memberikan kembalian Rp 200,- , dan ketika pernah dua kali dulu bapak sopir lyn P masih mengenakan tarif Rp 2.300,- sesuai ketentuan Dishub Surabaya.


Prestasi Mendunia Indonesia

April 27, 2007

Setelah Susi Susanti dan korupsi, ini adalah prestasi Indonesia yang layak dicatat di Guiness Book of Record.


Copet oh Copet

April 13, 2007

Suatu pagi di awal Februari , untuk pertama kalinya dalam 23 tahun terakhir, penulis menjadi korban kawanan pencopet penumpang angkot (kebetulan semenjak kelas 1 SD penulis telah mencatatkan diri sebagai “angkoter” –grammar in English- sejati). Cuma sebuah telepon genggam hasil keringat sendiri yang sama sekali nggak canggih, sih…….. Tapi…….marah, menyesal, kecewa atas kebodohan diri sendiri? Sudah pasti! Muak, jijik, dendam pada pelaku? Tentu saja!

Duit seharga telepon genggam itu, pasti akan lebih berguna jika disumbangkan untuk para tukang becak, gelandangan, yatim-piatu, pengecer koran daripada di berikan cuma-cuma untuk para pencopet pemalas itu. Bayangkan saja berapa banyak pahalanya, jika tiap rupiah akan dikalikan tujuh lalu dikalikan sepuluh! Ckckckck, lumayan…… bisa buat tabungan pahala selama  sebulan. Hahaha, dasar manusia!!!…….memang penulis pernah terfikir atau berniat beramal sebanyak itu sebelum kecopetan???? Fiuh…..sudah jadi watak bawaan penulis dari dulu, semua niat baik muncul setelah kepepet. Eit, niat baik yang mana? Apa masih jadi niat baik yang tulus ketika ada muatan “daripada dicopet, lebih baik dibuat amal”, “kalu saja tidak dicopet, mungkin bisa buat beramal”???

Memang benar, Allah selalu punya rencana untuk setiap kejadian, toh di kemudian hari ada seorang teman yang -ultra mulia- mampir menawari pinjaman telepon genggam nganggur-nya yang entah ada berapa biji di rumahnya. Dan pada akhirnya, dengan pinjaman “ekstra-lunak” dari salah seorang kakak penulis, penulis bisa kembali membeli telepon genggam baru yang tidak begitu canggih, thanks ya mbak!