Bikin Keributan Tanpa Keributan

Malam minggu terakhir di bulan Agustus kemarin, dengan sedikit nekad untuk pertama kalinya aku mencoba ikut larut merasakan hingar-bingar mini live concert di lapangan terbuka. Kenekadan ini berawal dari beberapa alasan external : paksaan teman2 di kampung, tiket masuk yang gratisan akibat praktek nepotisme oleh seorang teman pegiat Karang Taruna di kampung dan lokasi yang dekat dengan rumah. Sebenarnya dorongan internal lebih menggebu, rasa penasaranku atas pria-pria muda personil band utama yang baru-baru ini sukses sampai-sampai singlenya dijiplak habis2an oleh Uut Permatasari juga niat iseng untuk mencari bahan postingan.

Apalagi sebagai pemudi di kampungku, seperti muda-mudi lainnya, aku tidak kuasa memebendung euforia kebanggaan, jika baru kedua kalinya semasa kami dibesarkan, lapangan kampung kami dipilih sebagai tempat proyek promosi dan ekspansi pasar secara besar-besaran oleh sebuah produsen rokok ringan. Tidak tanggung-tanggung muda-mudi kampungku yang biasanya dihibur band-band OM (orkes Melayu) yang gemar membuat lagu2 dangdut menjadi koplo, atau guyonan ludruk ala Cak Supali (artis dunia perludrukan yang cukup beken di Jatim saat ini), kini malah disuguhi hiburan bandband ibukota yang akhir2 ini rajin muncul di tv, baik video klipnya atau hanya sekedar menyemarakkan gosip di acara2 infotainment.

Huh, euforia dan rasa banggaku buru-buru tergilas dengan rasa miris, sesak, dan prihatin ketika menemui kenyataan lain sebagai dampak akan hingar bingar konser ini. Pemuda-pemuda ABG di kampungku mendadak terkena sindrom gaul wannabe, hingga panik, frustrasi dan kemudian menjadi marah karena hanya dihibur di luar arena pertunjukan. Mungkin juga kantong mereka yang nggak setebal ABG2 perkotaan untuk mebayar tiket masuk Rp 10.000. Saya jadi buru2 menjadi tebal muka terhadap mereka karena selain saya berhasil masuk secara gratis dengan Karang Taruna ID juga karena ternyata arena pertunjukan juga masih cukup luas untuk menampung mereka. Sindrom gaul wannabe ini ternyata juga sedang dirasakan gerembolan anak-anak usia SD yang saya lihat sedang ribut-ribut soal itungan duit yang tidak mencukupi agar semua gerombolan mereka bisa mendapat tiket masuk. Tidak cuma ingin gaul, tapi sindrom romantisme juga mendadak dialami pasangan-pasangan muda-mudi yang sibuk mojok di kegelapan di pinggiran lapangan petunjukan akibat (mungkin) tidak mampu membayar sewa hotel resmi atau merasa riskan jika berpacaran ala mereka di rumah masing-masing. Bahkan saya sempat menemui sepasang kekasih mesra bergandeng tangan dan saling merangkul, dan saya yakini jika umur mereka tidak lebih dari 13 tahun. Untuk bagian ini, ada sedikit rasa nelangsa di hati saya, perempuan muda, datang tanpa pasangan tapi justru datang bersama teman, yang tidak lain sepasang suami istri yang baru seminggu menikah, hiks…………………………..

Tidak hanya itu, karena si empu acaranya adalah merk rokok, di sini juga bebas bagi siapa saja untuk merokok, termasuk beberapa anak yang usianya tidak lebih dari 10 tahun yang saya jumpai.

Rok mini, t-shirt ketat, asap rokok, perempuan2 muda yang menempel-nempel di punggung pria2 muda, pria2 muda yang bergelanyut di pundak perempuan2 muda, alkohol, jingkrak-jingkrak kaki mengikuti alunan musik, band penyanyi, lighting, merk rokok………………….saya jadi membayangkan seperti suasana diskotik/club2 malam seperti yang digambarkan di sinetron2 kita, di acara2 TV tengah malam atau bahkan di berita razia tempat hiuburan malam.

Hmmmmm, generasi muda kampungku sedang dididik menjadi “Gaul”, “Ngota”, “Bebas Berekspresi”, dan “Kreatif” oleh merk rokok ringan.

Kapan proyek promosi merk rokok ini bisa mendidik generasi penerus di kampungku dengan taman bacaan anak, perpustakaan umum, sanggar seni, peyuluhan merokok tanpa mengganggu tanpa merampas hak yang bukan perokok, dll…..dll…..dll…..

Btw, ada sedikit kejanggalan di telinga saya atas kalimat MC laki2 di acara itu : membuat keributan (merujuk slogan acara A-mild Noize) tanpa keributan (mungkin maksudnya tanpa tawuran). Detail kalimatnya seperti ini : “Mari kita bikin keributan tanpa keributan”.

Iklan

13 Responses to Bikin Keributan Tanpa Keributan

  1. caplang™ berkata:

    🙂

    *ga mo bikin keributan*

  2. hanna berkata:

    Ajarin dong supaya bisa membuat keributan tanpa keributan.
    Makasih ya, dah mampir ke blog saya.Salam kenal.

  3. co-that berkata:

    *bikin keributan di sini*

  4. 'K, berkata:

    banyak kenyataan miris dikampungnya neen

  5. Suluh berkata:

    mbakar bakar rumah aja biar ribut disini…..

    orang kesasar…

    salam kenal… :d

  6. ella berkata:

    waaaa……..
    Jd pgn nyoba jg……
    Seru bg rsna…..
    Bye2…..
    Jgn kgn ma aku yah…..^_^

  7. Ozan's berkata:

    “Mari kita bikin keributan tanpa keributan” no coment….?

  8. almascatie berkata:

    Kapan proyek promosi merk rokok ini bisa mendidik generasi penerus di kampungku dengan taman bacaan anak, perpustakaan umum, sanggar seni, peyuluhan merokok tanpa mengganggu tanpa merampas hak yang bukan perokok,

    itu bisa ga menghasilkan duit buat kantong2 mereka??
    👿

  9. benbego berkata:

    Please, dont try that at home!

  10. co-that berkata:

    kok gak pernah update lagi??

    *loncat2 bikin keributan*

  11. vino berkata:

    ributan aceh lebih enak…
    daging ama kulitnya ngelupas….
    *mau !*

  12. )x( berkata:

    bring the noise
    avoid the riot

  13. de berkata:

    saya juga ogah ribut 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: