Malangnya “Angkoters” (I)

Seperti yang ditulis blogger ini, betapa bikin stressnya berkendara di jalanan kota besar, Hukum rimba pun masih kental berlaku di jalanan tengah kota, kendaraan kecil dan tidak bermesin harus lebih sopan jika berebut jalan dengan kendaraan berbodi besar dan bermesin. Gak cukup hukumnya, bahasa rimba pun sering dijadikan bahasa komunikasi para pengendara stress di jalanan tengah kota (penghuni2 rimba monyet, anjing hutan beserta tai kotorannya).

Soal hukum rimba, inilah yang kurasa sebagai konsumen tidak berdaya “angkoter” yang selalu jadi kalah-kalahan oleh produsen pemilik kuasa para sopir, para tuan pemilik ijin trayek dan armada angkot, hingga oleh organisasi jurusan angkot.
Dari puluhan ribu kilometer jalanan yang selalu kulalui dari dalam angkot, mungkin hanya puluhan kali aku melintasinya dengan rasa yang suka cita, senang, nyaman, tanpa umpatan dalam hati, bahkan kagum dan memuji sopir pengemudi angkot.
Setiap hari dalam lebih dari dua tahun terakhir ini, aku dipaksa untuk selalu bersabar, ketika sopir2 lyn G dan P selalu menarik tarif Rp 200,- di atas tarif resmi yang sudah ditetapkan oleh Dishub Kota Surabaya. Memang cuma Rp 200,- sih, toh angkoters yang lain juga nggak pernah protes, meski ga sedikit angkoters yang taat pada aturan tarif itu dengan membayar memakai uang pas. Apa angkoters yang g pernah protes itu, termasuk aku aku, memang mengiklhaskan Rp 200,- itu setiap harinya atau sama mengutuknya dalam hati sopir2 curang yang berpura-pura tidak terjadi apa-apa itu????? Nilainya memang g seberapa, bagi angkoters yang punya banyak duit atau pun jika dibanding dengan biaya BBM (yang sudah berkali-kali melunjak) yang harus dikeluarkan oleh sopir angkot. Tapi, ini masalah kejujuran, masalah berdisiplin terhadap aturan yang telah dibuat, masalah pemenuhan hak-hak orang lain konsumen, masalah dosa dan pahala. Ngga’ tau sudah berapa banyak dosa yang tercipta akibat Rp 200,- ini??? Dari umpatan-umpatan ringan angkoters yang tidak legowo, hingga perbuatan menilep hak orang lain yang terorganisir. Terorganisir???? Yup, karena ga’ cuma sopirnya saja yg berdosa karena penilepan Rp 200,- itu, pemilik ijin trayek dan armada angkot juga turut berkontribusi dalam dosa penilepan ini karena merekalah yang selalu menekan sopir2nya untuk memberikan setoran setinggi2nya di tengah sepinya pengguna angkot dan lunjakan harga BBM, dishub Surabaya pun berdosa, karena tidak pernah melakukan fungsi pemantauannya tas regulasi yang ia buat sendiri, setelah semua ini apa yang menaikkan harga BBM apa juga turut berdosa πŸ˜• ???

Huh, toh di samping semua itu, aku juga pernah merasakan suka cita dan berdecak kagum ketika harus turun dari angkot. Ketika sempat beberapa kali dulu bapak-bapak sopir lyn G masih mau memberikan kembalian Rp 200,- , dan ketika pernah dua kali dulu bapak sopir lyn P masih mengenakan tarif Rp 2.300,- sesuai ketentuan Dishub Surabaya.

Iklan

5 Responses to Malangnya “Angkoters” (I)

  1. Suluh berkata:

    wah dimana mana mang kek gitu kayaknya… moga aja gak dimana mana dink.. cuma di surabaya aja…:D

  2. peyek berkata:

    angkot di Surabaya? ah kadang miris berada didalamnya entah mengapa, pengalaman pribadi, mungkin juga. Apalagi angkot Surabaya-Gresik, huh! lebih parah lagi.

    dulu angkot di surabaya lebih murah daripada di tempatku, nggak tahu sekarang!.

  3. co-that berkata:

    hik ngomong2 tentang angkot…. aku baru kehilangan HP N73 Music addition yang baru sebulan aku pegang di angkot. mana cicilannya belum lunas hueheheheh

    *tersenyum*

  4. orido berkata:

    perjuangan pengguna public transportation..

    ngloyor pake motor ajah..
    πŸ˜€

  5. co-that berkata:

    *habis buka blognya dhana trus liat ada shoutout temennyacodet* hahah ternyata kamu…. kenapa pake nama samaran??? banyar license!! πŸ˜€

    eh aku salah ketik diatas Music Editions magsudnya :p

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: