Copet oh Copet

Suatu pagi di awal Februari , untuk pertama kalinya dalam 23 tahun terakhir, penulis menjadi korban kawanan pencopet penumpang angkot (kebetulan semenjak kelas 1 SD penulis telah mencatatkan diri sebagai “angkoter” –grammar in English- sejati). Cuma sebuah telepon genggam hasil keringat sendiri yang sama sekali nggak canggih, sih…….. Tapi…….marah, menyesal, kecewa atas kebodohan diri sendiri? Sudah pasti! Muak, jijik, dendam pada pelaku? Tentu saja!

Duit seharga telepon genggam itu, pasti akan lebih berguna jika disumbangkan untuk para tukang becak, gelandangan, yatim-piatu, pengecer koran daripada di berikan cuma-cuma untuk para pencopet pemalas itu. Bayangkan saja berapa banyak pahalanya, jika tiap rupiah akan dikalikan tujuh lalu dikalikan sepuluh! Ckckckck, lumayan…… bisa buat tabungan pahala selama  sebulan. Hahaha, dasar manusia!!!…….memang penulis pernah terfikir atau berniat beramal sebanyak itu sebelum kecopetan???? Fiuh…..sudah jadi watak bawaan penulis dari dulu, semua niat baik muncul setelah kepepet. Eit, niat baik yang mana? Apa masih jadi niat baik yang tulus ketika ada muatan “daripada dicopet, lebih baik dibuat amal”, “kalu saja tidak dicopet, mungkin bisa buat beramal”???

Memang benar, Allah selalu punya rencana untuk setiap kejadian, toh di kemudian hari ada seorang teman yang -ultra mulia- mampir menawari pinjaman telepon genggam nganggur-nya yang entah ada berapa biji di rumahnya. Dan pada akhirnya, dengan pinjaman “ekstra-lunak” dari salah seorang kakak penulis, penulis bisa kembali membeli telepon genggam baru yang tidak begitu canggih, thanks ya mbak!

Iklan

3 Responses to Copet oh Copet

  1. co-that berkata:

    hehehehe itu manusiawi kok!! tapi jarang loo ada orang yang mau berfikiran positif kayak gini!! ya berarti kamu diingatkan untuk beramal tuh!!! :p

  2. neri berkata:

    @ co-that : termasuk kamu ya, yang ngingetin? 🙂

  3. isez berkata:

    lebih menyebalkan lagi ketika pada awalnya kita udah curiga sama si copet (yang tidak berpotongan seperti pencopet) tapi udah gitu kepikiran..
    ‘udah donk,jangan suudzon..’
    taunya… deng!! dia emang copet..

    jadi ga ngerti pengen marah ama siapa..
    hehehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: