S E L I N G K U H

September 26, 2009


Malam ini……………….


Aku ingin tertidur sambil memeluk bayangmu


Aku ingin bermimpi tentangmu


Aku ingin terbang….


Bersama lamunan memori akanmu


Aku pun ingin terbangun bersama harapan-harapan mu


Aku ingin sejenak menjadi dulu…


Visit Indonesia 2008: “Indonesia, The Land of Disaster”

Desember 18, 2007

Membaca rubrik teropong wisata di Harian Pagi Kompas, 18 Desember 2007 saya jadi termenung memikirkan slogan pariwisata Indonesia untuk menyambut tahun Visit Indonesia 2008. Karena, masih menurut artikel tersebut selain jauh tertinggal dalam hal jumlah wisman dan devisa, Indonesia juga tertinggal dalam pengemasan konsep pariwisatanya jika dibanding dengan Singapura, Malingasia dan Vietnam. Untuk slogan saja Indonesia tidak punya, slogan apa ya yang kira2 bisa mewakili Pariwisata Indonesia. Singapura : uniquely Singapore, Malaysia: the trully Malingasia, Vietnam: hidden charm. Ingatan saya jadi melayang pada perbincangan saya dengan sorang teman setahun yang lalu, juga pada salah satu episode serial kartun besutan Nickelodeon Chalk Zone. “Indonesia: Land of Disaster”, mungkin itu slogan yang tepat. Slogan inilah yang muncul dari seorang teman, ternyata pernah juga muncul menjadi konsep wahana wisata di serial kartun Chalk Zone. Dalam serial itu, diceritakan jika di dunia kapur terdapat taman wisata bencana yang menawarkan sensasi adrenalin melalui wahana-wahana yang terispirasi dari berbagai unsur bencana yang ada di dunia nyata. Seperti wahana es, wahana api, wahana angin, wahana batu-batuan, semua berkonsep bencana alam.

 

Sedang di Indonesia, apa yang bisa ditawarkan, unik dan lain dari pada yang lain, yaitu bencana, baik bencana alam maupun bencana kemanusiaan bikinan manusia. Di Indonesia, wisnman dapat dimanjakan dengan sensasi2 dasyat melalui banjir di tengah kota, banjir lumpur, gunung meletus, tanah longsor di tengah pemukiman, longsoran pegunungan sampah, air laut pasang, kebakaran, puting beliung, kecelakan pasawat, kereta api, busway, kecelakaan kendaraan bermotor dari jalanan yang membelah hutan hingga jalanan tengah kota, kerusuhan, pertikaian aparat-demonstran, aparat-warga, pertikaian antar suku, antar desa hingga antar politikus, keracunan makanan, keracunan udara di pusat perbelanjaan, inflasi. Ada lagi yang belum disebutkan???? Silakan anda sebutkan……..🙂


Pertaruhkan Nyawa Kita

November 20, 2007

Menjalani hidup di (Indonesia) sini serasa sedang menjalani ajang pertaruhan nyawa. Saat ini, sektor manakah yang digarap serius dan memperhitungkan standar keselamatan “nyawa” manusia? Transportasi, makanan, peralatan rumah tangga, infrastruktur, pendidikan??

Kalau dulu kereta selalu dianggap menjadi moda transpotasi paling aman, luntur sudah anggapan itu bersamaan dengan 60% infrasruktur rel kereta api di Jawa yg butuh diperbaiki dan diganti. Musibah transportasi pun seakan silih berganti dari satu moda ke moda yang lain.

Pengalaman saya dengan moda transportasi angkot  pun membuat saya setiap hari merasa sedang bergumul mempertaruhkan nyawa. Saya harus berdag-dig-dug ria ketika setiap hari harus mengikuti balapan antar sopir lyn HG (jurusan sepanjang-krian) yang ugal-ugalan. Saya dan sesama penumpang lain hanya bisa mengelus dada dan berharap tidak terjadi apa-apa terhadap badan ini tanpa tau harus mengadu kemana. Dishub dan kepolisian di daerah saya seakan tutup mata. Selain berharap-harap cemas dengan balapan ugal-ugalan itu, pengguna jalan juga harus tahan nafas dengan truk-truk yang berlebih muatan dan tidak jarang memaksa kebut2an meski jalan sangat sempit. Dulu, sempat suatu sore sebuah truk tronton bermuatan biji plastik jatuh terguling tepat di depan rumah saya dan menimpa pagar di halaman, sore hari…. ketika ibu saya biasanya sibuk menyapu halaman rumah, sore hari…. ketika karyawan pabrik di dekat rumah saya sedang berlalu lalang di jalanan. Di sekitar rumahku tragedi2 kecelakaan darat seperti itu seakan menjadi santapan biasa, orang duduk2 sore di beranda rumah saja pernah menjadi korban meninggal karena pengemudi yang ugal-ugalan dan nyasar menabrak beranda rumah orang.

Program berita investigasi di TV mana yang tidak pernah membahas pertaruhan nyawa orang banyak akibat kelalaian produsen makanan, obat2an, sampai peralatan rumah tangga,?? Formalin, boraks, pewarna pakaian, pemanis buatan tak layak konsumsi, sampai bahan2 kimia berbahaya campuran jamu,  seakan sudah menjadi bagian hidup mayoritas warga Indonesia, yang berdaya beli rendah dengan pendapatan yang pas-pasan.

Soal makanan, saya punya pengalaman pribadi harus mengalami radang tenggorokan berhari-hari akibat mengkonsumsi buah2an sejenis melon, semangka dan blewah. Waktu itu, saya hanya terheran2 mengapa mengkonsumsi buah-buahan itu harus membuat saya sakit?? ternyata, kabar terakhir, di sebuah liputan investigasi salah satu TV swasta, tidak jarang pedagang2 buah2an tersebut menyuntikkan pemanis buatan agar dagangannya laris manis.

Regulasi di negara kita seakan telat merespon masalah-masalah tersebut, baru dibuat regulasi jika sudah terkuak ke permukaan, padahal borok itu sudah lama beredar dan menjadi perbincangan antar warga. Complain lembaga setaraf YLKI sampai hasil penelitian2 seporadis seakan terabaikan oleh pemerintah jika belum ada kasus yang menghebohkan dan “mencolok” mata publik.

Seorang hakim yang sedang berdiri menegakkan keadilan harus meregang nyawa diujung senjata milik suruhan sang terdakwa berduit Tommy Suharto . Siswa-siswa SD di dalam 535.825 ruang kelas harus merasa terancam nyawanya ketika sedang menuntut ilmu meski negeri ini sudah berkomitmen 20% APBN untuk pendidikan. Hmm………….. semua penuh dengan pertaruhan nyawa. Mungkin saya hanya bisa menggantungkan harapan agar hak berpendapat di negeri ini tidak kembali menjadi ajang pertaruhan nyawa seperti di rezim-rezim terdahulu. (Temasuk berpendapat di blog🙂 )


Bikin Keributan Tanpa Keributan

September 17, 2007

Malam minggu terakhir di bulan Agustus kemarin, dengan sedikit nekad untuk pertama kalinya aku mencoba ikut larut merasakan hingar-bingar mini live concert di lapangan terbuka. Kenekadan ini berawal dari beberapa alasan external : paksaan teman2 di kampung, tiket masuk yang gratisan akibat praktek nepotisme oleh seorang teman pegiat Karang Taruna di kampung dan lokasi yang dekat dengan rumah. Sebenarnya dorongan internal lebih menggebu, rasa penasaranku atas pria-pria muda personil band utama yang baru-baru ini sukses sampai-sampai singlenya dijiplak habis2an oleh Uut Permatasari juga niat iseng untuk mencari bahan postingan.

Apalagi sebagai pemudi di kampungku, seperti muda-mudi lainnya, aku tidak kuasa memebendung euforia kebanggaan, jika baru kedua kalinya semasa kami dibesarkan, lapangan kampung kami dipilih sebagai tempat proyek promosi dan ekspansi pasar secara besar-besaran oleh sebuah produsen rokok ringan. Tidak tanggung-tanggung muda-mudi kampungku yang biasanya dihibur band-band OM (orkes Melayu) yang gemar membuat lagu2 dangdut menjadi koplo, atau guyonan ludruk ala Cak Supali (artis dunia perludrukan yang cukup beken di Jatim saat ini), kini malah disuguhi hiburan bandband ibukota yang akhir2 ini rajin muncul di tv, baik video klipnya atau hanya sekedar menyemarakkan gosip di acara2 infotainment.

Huh, euforia dan rasa banggaku buru-buru tergilas dengan rasa miris, sesak, dan prihatin ketika menemui kenyataan lain sebagai dampak akan hingar bingar konser ini. Pemuda-pemuda ABG di kampungku mendadak terkena sindrom gaul wannabe, hingga panik, frustrasi dan kemudian menjadi marah karena hanya dihibur di luar arena pertunjukan. Mungkin juga kantong mereka yang nggak setebal ABG2 perkotaan untuk mebayar tiket masuk Rp 10.000. Saya jadi buru2 menjadi tebal muka terhadap mereka karena selain saya berhasil masuk secara gratis dengan Karang Taruna ID juga karena ternyata arena pertunjukan juga masih cukup luas untuk menampung mereka. Sindrom gaul wannabe ini ternyata juga sedang dirasakan gerembolan anak-anak usia SD yang saya lihat sedang ribut-ribut soal itungan duit yang tidak mencukupi agar semua gerombolan mereka bisa mendapat tiket masuk. Tidak cuma ingin gaul, tapi sindrom romantisme juga mendadak dialami pasangan-pasangan muda-mudi yang sibuk mojok di kegelapan di pinggiran lapangan petunjukan akibat (mungkin) tidak mampu membayar sewa hotel resmi atau merasa riskan jika berpacaran ala mereka di rumah masing-masing. Bahkan saya sempat menemui sepasang kekasih mesra bergandeng tangan dan saling merangkul, dan saya yakini jika umur mereka tidak lebih dari 13 tahun. Untuk bagian ini, ada sedikit rasa nelangsa di hati saya, perempuan muda, datang tanpa pasangan tapi justru datang bersama teman, yang tidak lain sepasang suami istri yang baru seminggu menikah, hiks…………………………..

Tidak hanya itu, karena si empu acaranya adalah merk rokok, di sini juga bebas bagi siapa saja untuk merokok, termasuk beberapa anak yang usianya tidak lebih dari 10 tahun yang saya jumpai.

Rok mini, t-shirt ketat, asap rokok, perempuan2 muda yang menempel-nempel di punggung pria2 muda, pria2 muda yang bergelanyut di pundak perempuan2 muda, alkohol, jingkrak-jingkrak kaki mengikuti alunan musik, band penyanyi, lighting, merk rokok………………….saya jadi membayangkan seperti suasana diskotik/club2 malam seperti yang digambarkan di sinetron2 kita, di acara2 TV tengah malam atau bahkan di berita razia tempat hiuburan malam.

Hmmmmm, generasi muda kampungku sedang dididik menjadi “Gaul”, “Ngota”, “Bebas Berekspresi”, dan “Kreatif” oleh merk rokok ringan.

Kapan proyek promosi merk rokok ini bisa mendidik generasi penerus di kampungku dengan taman bacaan anak, perpustakaan umum, sanggar seni, peyuluhan merokok tanpa mengganggu tanpa merampas hak yang bukan perokok, dll…..dll…..dll…..

Btw, ada sedikit kejanggalan di telinga saya atas kalimat MC laki2 di acara itu : membuat keributan (merujuk slogan acara A-mild Noize) tanpa keributan (mungkin maksudnya tanpa tawuran). Detail kalimatnya seperti ini : “Mari kita bikin keributan tanpa keributan”.


Shinta, ABG Penggemarku

Juli 20, 2007

Pagi ini, aku merasa keren. Gimana tidak? Waktu di angkot, seorang anak perempuan belasan tahun  getol sekali colak-colek daguku (kupikir sebagai ungkapan kekagumannya akan kecantikanku). ABG yang ternyata bernama Shinta ini juga berkali-kali menciumi tanganku (entah karena harumnya lotion yg kupakai atau memang begitu cantiknya aku dlm pengelihatannya). Sudah begitu, dia juga mendaulatku untuk  ber”dada-dada” ria menyapa cowok2 pengendara motor di belakang angkot. Sambil menyapa cowok2 itu, dengan sedikit berbisik dia mengatakan “ada cowok, hihihi”, khas seorang ABG perempuan.

Shinta, pelajar kelas 6 di salah satu SLB di Surabaya ini begitu ceria, ramah dan bersemangat. Aku bahkan sangat salut dengan rasa percaya dirinya yang tinggi. Tidak seperti kebanyakan  penderita down sindrome yang kutemui, Shinta tergolong “ngerti” (nyambung di ajak ngomong), ramah dan menyenangkan. Shinta juga terlihat patuh (bukan takut) terhadap mamanya. Berkali-kali dia memperkenalkan mamanya dan menceritakan keluarganya kepadaku dengan sangat bangganya.  Shinta hanya dua bersaudara, kakak semata wayangnya laki-laki, dan dia ingin sekali memiliki kakak perempuan. Ini menjawab semua pertanyaanku sebelumnya, kenapa dia sebegitu ngefans dan mengagumiku.

Hmm…..Shinta, pasti mamamu juga bangga akan dirimu. Kakak laki-lakimu pun pasti sangat menyayangimu. Selain dengan Shinta, aku juga salut dengan mama dari Shinta. Beliau begitu telaten, sabar dan bangga dalam mendidik dan membesarkan Shinta. Si ibu ini, tidak segan2 menceritakan kondisi, kemajuan dan apapun tentang Shinta kepada ibu-ibu lain di angkot.

Satu hal yg membuatku agak kecewa terhadap mama Shinta. Ketika Shinta gencar menunjukkan rekasi kekagumannya kepadaku, mamanya berkali-kali melarang Shinta sambil mengatakan “jangan Shinta, tidak boleh, mbaknya mau kerja, nanti kotor”. Heh..?!!? Kotor?!?! apanya yang kotor?!?! Padahal berkali-kali pula aku memberikan isyarat kepada mama Shinta jika aku nggak nganggap Shinta kotor dan tidak merasa terganggu. Memang, Shinta tidak kotor kok! Dan aku memang enjoy menikmati kekaguman Shinta terhadapku, hihihi. Kacian Shinta…………….kenapa dia hrs diajarkan untuk menganggap dirinya sendiri kotor dan tidak diterima?? Padahal dia begitu supel, ramah dan menyenangkan.


D’Cinnamons (I love it)……….Do u?

Juli 6, 2007

D’cinnamons……..sejak pertama denger group band cewek ini nyanyi, aku langsung fall in love. Gak pake lama, g pake adaptasi telinga untuk menyukai musik dari band baru ini. Buat sesama peminat (*Siti Nurhaliza* mode on) musik dari band ini, bisa download lagu2nya di sini.

Makasih banyak buat blogger ini yang sudah berbaik hati memberi tau informasi download lagu-lagunya d’cinnamons.


5,80 (yang penting lulus)……..

Juni 28, 2007

Ini adalah dialog yang awalnya secara tidak sengaja dan kemudian berlanjut menjadi sengaja untuk ku curi dengar dengarkan.
(setting: pagi hari, di dalam angkot jurusan Sepanjang-Joyoboyo ; pemeran: tiga orang anak salah satu SMP Negeri di Surabaya (dua siswi yang baru lulus UNAS dan seorang siswa adik kelas)

(Siswa): “Aku wingi ngintip hasil UNAS arek kelas telu, Bahasa Indonesia’ne 5,80. (Aku kemarin mengintip hasil UNAS anak kelas tiga, nilai Bahasa Indonesianya 5,80).

(Siswi 1):”Iyo terus kenek opo?” (Emangnya kenapa???)

(Siswa):”Bahasa Indonesia, 5????” (Bahasa Indonesia, 5,8?????)
*dengan sedikit menekankan kalimatnya*

(Siswi 2):”Tapi de’e kan lulus??? Sing penting kan lulus!!!!!!!” (Tapi dia kan lulus, yang penting lulus!!!!!)

(Siswa):”Pancen lulus, tapi NEM’e pas2an? Engko kan gak iso daftar SMA negeri.” (Emang lulus, tapi dengan NEM pas2an?) Nanti tdk bisa daftar di SMA negeri.)

(Siswi 2+1):”Halah, saiki sing penting lulus, masalah NEM ambe’ sekolah, saiki kan akeh SMA swasta sing gelem nerimo NEM pas2an. (Halah, sekarang itu yang penting lulus, masalah NEM dan sekolah, sekarang kan banyak SMA swasta yang mau menerima NEM pas2an.)

PARAH-PARAH-PARAH. Sebegitu parahkah pelajar Indonesia???? Sebegitu carut-marut kah sistem pendidikan di sini (baca:Indonesia). Bertahun-tahun siswa sekolah hanya akan bermuara pada harapan lulus UNAS, lulus meski dengan nilai minim!!!!

Standar kelulusan atas dasar hasil UNAS telah membuat setiap komponen di dunia pendidikan dasar dan menegah (guru, pelajar ataupun lembaga bimbel yang tumbuh subur bak jamur di kulit kaki yang kotor) gelap mata agar siswa dapat LOLOS lulus UNAS. Lihat saja, para guru bahkan kepala sekolah akan dengan sungguh2 mengolah kecerdasannya agar siswa disekolahnya dapat dengan sukses menjawab soal2 ketika UNAS berlangsung. Sedang pelajar-pelajar kita???? dengan bangga mereka akan mempersembahkan kelulusannya seperti dalog di atas. Nonton sinetron remaja gak mutu tiap harinya, gak diterima di sekolah negeri, mengganggu kenyamanan pengguna jalan saat konvoi kelulusan….semuanya bukan masalah besar, yang penting mereka LOLOS lulus UNAS!!!!!!!! Tak kalah hebohnya, lembaga bimbingan belajar yang seharusnya ikut membantu memantapkan pemahaman kognitif para peserta didiknya, alih-alih mereka berusaha menjaring banyak-banyak siswa dengan iming-iming rumus/cara singkat, cepat, jitunya untuk mengerjakan soal-soal UNAS.

Semoga saja, UNAS sebagai standar kelulusan saat ini, dapat mencetak pemimpin2 masa depan yang lebih bermoral, bisa menjadi pembuka jalan lahirnya penerima nobel dari Indonesia yang low profile, tidak kalah pentingnya bisa mencerdaskan kehidupan bangsa seperti amanah dalam prembule UUD 1945, dan kebisaan-kebisaan hebat lainnya………..entah kapan?????